Saturday, March 26, 2016

H-3

Dear : My blog

Tak ada hal yang lebih parah dibandingkan dengan melepaskan orang yang masih begitu sangat kau cintai. 2 hari yang lalu mungkin adalah hari pengambilan keputusan terburuk yang pernah aku lakukan. Aku memutuskan pacarku, yang masih-masih sangat aku cintai karena aku begitu cemburu. Dan sekarang yang aku bisa lakukan adalah menyesali keputusanku. Aku sedih, galau tak terkendali. Bahkan aku rela menjual harga diriku, aku mengungkapkan semua penyesalanku kepadanya dan meminta maaf. Aku sudah menyampaikan kepadanya bahwa aku sangat-sangat menyesal dan ingin memperbaiki semua dari awal, membuka lembaran baru. Aku menunggu hatinya akan terbuka lagi untukku. Tetapi sepertinya hatinya cukup keras dan menginginkan kami hanya berteman saja.

Pedih....
Tak tau bagaimana caraku untuk melewati semua ini. Bagaimana buruknya hari-hari yang akan ku lewati. Bagaimana caraku agar aku bisa bangkit kembali. Aku sangat menyayanginya. Atau bolehkah aku mati saja? Ya, kalimat yang paling buruk, kalimat bodoh dan menjijikan. Dan memang inilah bisikan hatiku kepadaku. Lantas, apa yang harus kuperbuat? Dan tentu saja, daripada aku mati lebih baik aku tetap hidup saja walaupun beberapa bagian di dalam jiwaku mati. Tak apalah, mungkin inilah harga yang harus kubayar dari semua kesalahanku. Mungkin, aku tak akan mati setelah ini karena dia pergi. Aku berjanji dan aku tak akan bunuh diri demi mama yang ku cinta. Tetapi, bolehkan aku menangis setiap malam? Perbolehkanlah aku untuk terisak menjelang tidur untuk sekedar melegakan hatiku sampai aku benar-benar ikhlas.

Dan untukmu, sayangku...
Tolonglah maafkan aku. Maafkan aku yang sudah membuatmu kesal selama ini.  Tidak apa-apa kau tak ada lagi disisiku. Aku akan menonton film animasi setiap malam untuk sekedar melupakan pedihnya hatiku dan akan menagis tersedu-sedu menjelang tidur supaya aku sadar betapa berartinya kau untukku. Aku akan selalu berdoa untuk kesehatanmu dan semoga kau selalu berbahagia. Sulit bagiku untuk menjadi sekedar teman untuk mu seperti yang kau mau. Mungkin aku akan sedikit berubah. Dan disela-sela hari pedihku mungkin aku akan mengharapkan kau mengatakan ya, untuk tawaranku menjadi pacarmu lagi. Aku takan lelah untuk itu. Pasti. Tetapi jika kau tak mau dan tak akan pernah mau memberi aku kesempatan lagi, mohon doakanlah aku agar aku bisa mengikhlaskan semua.
Aku menyayangimu

Thursday, March 24, 2016

Pedih...

Dear blog kesayanganku,

Terimakasih sudah ada dan selalu menjadi tempat untuk menampung semua cerita-ceritaku. Kali ini aku mau membagi satu kisah pahit yang baru saja aku buat sendiri. Aku tak tahan lagi memendam semua walaupun aku sudah berusaha terlalu keras untuk tegar.

Hari ini aku memutuskan untuk mengakhiri kisahku dengan si Ucok. Ini terjadi bukan karena kesalahpahaman, melainkan aku yang salah memahami diriku sendiri. Apakah aku yang salah jika aku cemburu kepada pacarku sendiri? Aku yang salah kalau sungguh-sungguh tulus menyayangi seseorang, sampai aku tak rela ada perempuan lain yang menyimpan rasa untuknya?. Bagi mereka aku yang seperti ini salah. Bagi mereka aku kekanak-kanakan mencemburui  pacar sendiri yang masih ada komunikasi dengan mantannya. Mereka betul-betul tak mengerti terlukanya hatiku, bahkan jika melihat mereka "say hallo" saja.. Salah ya aku begitu mencintai seseorang sampai benar-benar tak rela jika pacarku berpaling pada siapapun juga?

Haha, tapi mereka mengatai aku berlebihan dan tak rasional. Hey, pernahkah kau mengandalkan logikamu jika sedang jatuh cinta? Aku sudah mencoba untuk maklum dan bersabar, tapi yang kurasakan hanyalah luka. Semakin sakit saja, menjelang tidur aku bertanya-tanya, "apa yang mereka bicarakan sampai selama itu?", "apa mungkin mereka masih saling suka?", "Bla bla bla bla bla..." semua pikiran negative menghantuiku. Hei, dan jangan fikir aku tak mencoba berfikir positif, aku sudah berusaha bahkan sangaaat sangaaat berusaha. Tapi tetap saja aku gagal memaklumi kalau mantan pacar itu bisa berteman. Cuma satu hal yang ingin aku dengar darimu, sayangku : "Ya aku berjanji gak akan pernah berkomunikasi dengan mantanku". Hanya itu kalimat yang mau ku dengar, walaupun suatu saat kau berbohong tapi hanya itu kalimat yang bisa membuat hatiku kembali tenang. Tapi kau malah menyodoriku kalimat "apa salah berteman sama mantan sendiri?" kalimat yang semakin memperburuk moodku.

Jadi, dari pada aku harus melukai hatiku sendiri lebih baik aku memilih satu-satunya jalan yang akan
(setidaknya) mengurangi beban pikiranku. Kita akhiri saja hubungan kita, dan tak akan adalagi yang mengeroyokimu dengan kalimat-kalimat cemburuku. Tak akan adalagi yang merengek-rengek seperti anak kecil padamu. Tak akan adalagi tuntutan-tuntutanku agar kau segera memperhatikanku. Aku takan komplain lagi kau dekat atau telfonan dengan siapa. Tak ada lagi yang ngambek karna bbmku lama kau balas. Ya, walaupun luka hatiku tak tau kapan sembuhnya, tetapi aku berjanji untuk tidak membebanimu lagi dengan sifat konyolku.

Dan untukmu sayangku, semoga kau bahagia tanpa aku.

Dari seorang wanita yang benar-benar mencintaimu dan hampir lost control.

 

Saturday, March 19, 2016

Tolong!!! Jaga Jarak dengan Mantanmu

Hai blog aku yang kece. Pasti kangen ya karna udah aku tinggalin begitu lama? Hehehe. Maaf, aku jarang curcol kesini karna aku kira aku masih bisa membendung semua cerita kelabu dan kesedihan ku di dalam hati saja. Tetapi untuk hari ini bener-bener parah, aku gak tahan lagi. Aku harus betul-betul menceritakan suatu hal yang bener-bener buat aku kalut gak karuan.

Sebelumnya, para pengunjung setia blog aku udah tau kan, aku udah berhasil PDKT sama si Ucok (bukan nama sebenarnya)? Yup, setelah selesai Pedekate akhirnya kami jadian dan udah pacaran kurang lebih 11 bulan kalau aku tidak salah. So, yang mau aku curhatin disini adalah aku lagi menghadapi suatu problem with si Ucok.

Dari awal kami sepakat untuk pacaran, hingga ke tengah-tengah aku merasa hubungan kami perlu dapat award pasangan terkalem tetapi sangat romantis sepanjang sejarah. Kami gak pernah lebay di media social, kami gak pernah sms atau chatting dengan ayank, saiiank, cayang , dst. (Bahasa anak alay zaman kini). Terus, kami tak pernah mendramatisir suatu keadaan seperti pasangan kebanyakan. Dan jujur saja aku nyaman dengan hal itu. Aku menyayanginya tanpa syarat dan tanpa alasan. Yaudah, sayang ya sayang aja. Aku nyaman bersamanya dan dia pun pastinya begitu.

Tetapi, semalam war  pun terjadi. Si Ucok sialan gak pernah paham bahwa sedikitpun hal yang berhubungan dengan mantannya bisa buat aku berubah jadi Vampir jahat penghisap darah.Aku paling anti lihat dia dan mantannya smsan,bbman, apalagi telfonan. Mungkin kalau aku cerita sama para manusia pasti mereka ngomong dalam hati "wah, cewek psikopat gila nih!" pasti! dan itulah mengapa aku tak mau sharing kepada manusia, karena manusia tak bisa tau perasaan seseorang bagaimana tanpa bertukar perasaan terlebih dahulu dan aku memilih curhat kepada blog ku tersayang ini yang dulu sudah sempat aku khianati dengan mengganti kepercayaan blog. Tetapi aku tak bisa move on dari blog ku yang kece ini, seperti mungkin jika aku putus dengan si Ucok aku pasti tak akan pernah bisa move on darinya dan mulailah aku menambah populasi Jomblo ngenes di Negara ini. Aku takan ikhlas kalau hal ini sampai terjadi.

Okay, back to the case. Ya, Ucok gak tau kalau aku itu agen mata-mata hand phone nya yang sangat-sangat professional. Aku lihat ada sms dari mantannya yang aku sangat tak suka, dan ada beberapa kalimat seperti "Pulsa aku habis nih, yaudah selamat malam aja ya. GBU". WOW!!!! WOW!!! Luar biasa, BRAVO! ternyata mereka curcol panjang lebar dan membuat hatiku bener-bener panas dan aku cemburu membabi buta. Aku langsung cek panggilan masuk, panggilan keluar dan sesuai kan dengan tanggal dan jam yang tertera. Dan ternyata emang bener. Shitt!! Lelaki memang keparat dan OMG, telfonan ampe 90 menit. Itu kan durasi pertandingan sepak bola.

Aku, sebagai perempuan yang bener-bener tulen yang mengandalkan hati dan perasaan benar-benar kecewa padamu Ucok! Kau bahagia dan aku terluka. Fine, kita lihat saja nanti apa yang terjadi. Yang perlu ku lakukan sekarang hanyalah mengumpulkan kekuatan jika di lain waktu terjadi masalah yang sama, maka aku pasti akan mengakhiri semua ini walaupun aku tak bisa Move on.
Dan kepada si wanita yang berstatus mantannya si Ucok, tolong bayangkan jika kita bertukar posisi.Aku tau kau pernah menjadi sesuatu yang special untuknya, tetapi bukankah putus adalah kesepakatan kalian? Kalau memang masih beranggapan dia tempat curhat yang paling nyaman, kenapa kalian harus putus dan menjadikanku korban cinta tak sampai kalian. Mohon, aku manusia sama seperti kalian berdua dan tolong hargai perasaanku.

Dan kepada siapapun yang tak sengaja membaca spam ini, mohon jangan beranggapan bahwa aku adalah wanita yang sangat jahat, cemburuan, posesif, dll. Hal ini aku lakuin karna memang hal itulah yang aku rasakan. Aku tak suka menyembunyikan perasaan dan menelan kekecewaan. Waktu kita terbatas untuk hidup di dunia ini. Jadi kenapa harus menyiksa diri sendiri dengan hal-hal menahan-nahan emosi?? Aku akan santai jika si lelaki santai. Aku akan respect jika si lelaki respect. Aku kan berkorban bahkan matipun aku mau jika si lelaki benar-benar layak untuk di perjuangkan.
TERIMAKASIH.


If your boy's love isn't pure,
Just let your heart find another pure love.
Don't hurt yourselves.

- Keshaa Kosasi -

Wednesday, October 14, 2015

Disaat cintaku mengalahkan logika part-4



            Handphoneku berdering, sebuah pesan masuk… Jantungku terasa berdetak lebih cepat dari biasa. Rasa penasaranku mengundang gerak reflek dari tanganku untuk membuka pesan itu lebih cepat. Aku terkesiap melihat nomor baru yang masuk dan benar-benar bahagia membaca pesan yang ternyata dari Ucok J. Dia mengatakan bahwa ia sedang dalam perjalanan menuju rumahku. Aku tak menyangka, karena sebelumnya aku sudah mengatur  rencana barangkali dia tidak datang atau dia terlalu canggung, dsb. Dan ternyata kali ini dia memberi sebuah kepastian untuk segera berpakaian dan berdandan sebaik yang aku bisa.
            Dengan sigap, aku mengambil baju pink yang menurutku saat itu, itu adalah baju terkeren yang pernah ada. Dan jauh hari aku sudah merencanakan untuk mengenakannya saat bertemu dengannya. Setelah aku rasa pakaianku cukup baik, aku mengambil peralatan make-up ku yang tersedia seadanya. Aku mengoleskan bedak ke wajahku, memakai pensil alis karena apa jadinya bentuk wajahku tanpa si pensil alis ini. Hihihi… Selanjutnya, ku kenakan eye liner dan mascara seadanya. Jujur, aku tak ingin meninggalkan kesan menor saat bertemu dengannya.
            Nah, saat hendak mengenakan lipstick, tiba-tiba aku tekejut akan suara seseorang. Roommate ku, dia berkata “Pakai lipstick warna pink saja, biar manis”. Akupun sependapat dan memakainya. Tipis, namun rapi. Setelah semua selesai, kembali aku menatapnya. “Manis sekali” katanya. Hahaha.. Pujiannya membuat pedemeter ku naik. Kemudian, sms masuk ke handphoneku lagi, ternyata dia sudah sampai. Well, selanjutnya aku berpamitan kepada roommate ku dan setelah itu meluncur ke TKP.. :D
            Aku benar-benar deg-degan. Dia sudah menungguku dan kami akan bertemu secara langsung. Sampailah sudah, aku celingak-celinguk berharap ada sesosok wajah yang benar-benar ingin aku lihat. Semakin cemas, dia tak ada. Ku ambil handphoneku dan menanyakan dia ada dimana. Tetapi tunggu dulu… Aku melihat bayangan seorang lelaki di belakang mobil. Jelas aku melihatnya dan aku benar-benar yakin bahwa dialah orangnya. Itu si Ucok. Jantungku semakin tak karuan, dan yang paling mencemaskanku kenapa dia tak langsung datang kehadapanku? Apa dia kira aku tak tau dia sembunyi disitu? Haahaha..
            Beberapa saat kemudian, dia bergerak dan menyalakan sepeda motornya dan akhirnya muncul dihadapanku. Uh, leganya!! Aku berdiri malu-malu sambil melihatnya. Dan aku rasa diapun sedikit malu. Dia memandangku sebentar sambil tersenyum kemudian segera mengalihkan pandangan ke arah lain. Aku rasa sedikit kecanggunganku buyar, aku mulai tersenyum melihatnya yang sepertinya speechless dan benar-benar, wow canggung. Aku tak pernah melihat reaksi lelaki seperti ini sebelumnya, dan hal ini benar-benar membuang semua kecanggunganku dan mungkin beberapa menit lagi, sifat agresif gilaku pecah. Hihihi..
            Aku mulai sedikit berbasi-basi kepadanya, dan tak lama ia menyalamiku sebentar sekali, kemudian menarik tangannya, buang muka sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tertawa. Wow, lelaki ini sungguh pemalu. Geli melihatnya, karena mengingat beberapa lelaki yang sudah pernah kencan denganku sebelumnya, selalu mendominasi percakapan. Tetapi dia tidak, dia berbicara saat ditanya saja. Seperti narapidana yang sedang diinterogasi saja. Hahaha… Dan sekali lagi, hal ini benar-benar membuatku merasa tertantang. “Kita kemana nih?”, tanyanya.. Padahal di chatting sebelumnya, kami sudah memutuskan untuk stay di rumahnya saja, sekedar ngobrol. “Tetapi kemarin sudah fix kalau kita ke rumahmu saja.”, jawabku seadanya. Ada sedikit lega di air mukanya, dan kemudian kamipun pergi menuju tempat yang aku kira akan menjadi saksi bisu tentang kehidupan cinta kami selanjutnya.
*To be continue ….

Wednesday, September 30, 2015

The Never Ending Sadness…



Rabu, 30 September 2015

Hari ini aku benar-benar kalut. Pagi hari yang seharusnya diawali dengan senyum dan semangat malah menjadi sebuah kesedihan untukku. Aku sedih sekali, sungguh keadaan ini sulit untuk ku terima. Seharusnya pagi ini aku bangun membayangkan betapa gembiranya hatiku akan bertemu dengan teman-teman sekelas ku 3SIA 5 di kampus nanti. Tapi tidak, aku membayangkan akan berada di tempat pengasingan karena aku harus belajar di kelas yang lain. Aku heran, kenapa mereka memindahkan kelasku sesuka hati saja. Kenapa tak ada konfirmasi atau sesuatu yang bisa mencegah hal ini terjadi? Mungkin banyak orang kira ini adalah sesuatu yang sepele. Ya, sepele.. Apa yang salah dengan pemindahan kelas? Bukannya tujuan utama untuk belajar? Oh, sungguh hal ini benar-benar mempengaruhi kehidupanku. Aku sudah menyayangi semua teman-temanku. Tak adalagi tawa lepas mereka disekelilingku, takan adalagi tingkah konyol mereka yang akan mengundang kebahagiaan untukku, takan adalagi ejek-ejekan lucu mereka untukku. Aku tak bisa menerima ini. Tetapi akupun tak memiliki kekuatan untuk memperbaiki kerusakan ini.
Kenapa harus aku yang dipisahkan dari mereka untuk masuk ke kelas yang di elu-elukan sebagai kelas unggulan.3 SIA 1??  Shitt… Aku tak butuh itu. Semua ini hanya omong kosong! Hal ini sungguh tidak penting untuk saat ini. Sekarang bukan zaman sekolah menengah lagi mengadakan kubu-kubu tak jelas seperi itu. Aku tak butuh gengsi. Aku butuh teman-teman yang secara tak langsung berperan besar menjadi sumber inspirasiku.Aku akan semakin berkembang jika aku bisa bebas mengeluarkan seluruh argumentasiku di tempat yang bisa memberi kenyamanan untukku. Bagaimana caranya agar aku bisa bangun dari mimpi buruk ini??

Wednesday, August 19, 2015

Salah pilih

Hari ini rasanya lelah sekali, baik pikiran maupun badan. Teringat percakapan beberapa hari lalu bersama salah satu teman kampus. "Ya memang bukan disini minat dan bakat kita, tapi bagaimana pun yang sebaiknya kita lakukan adalah belajar mencintai". Kata-katanya ada benarnya, tetapi kasus yang dihadapi disini adalah tentang apa jadinya kalau kita sudah BELAJAR mencintai tapi tak pernah bisa untuk benar-benar cinta.
Flashback ke masa lalu, saat jurusan teknik komputer sedang nge-trend aku juga ikut-ikutan masuk ke jurusan itu. Tanpa aku tau hal apa yang akan dipelajari disana. Hanya beberapa gambaran, perbaiki komputer dan merakit komputer. Wow, merakit!! Mendengar kata itu aku sungguh tertarik, bagaimana mungkin alat secanggih itu bisa dirakit oleh seorang anak SMA? Tak sabar menunggu waktu belajar tiba. Nah, saat ketidaksabaranku terjawab bukan kepuasan yang kudapat. Aku kecewa, ternyata merakit dalam arti yang sebenarnya adalah membongkar dan memasang seperti permainan anak kecil, membongkar dan memasang puzzle. Maaf, tak ada maksud menyinggung. Hanya mengutarakan kekecewaan saja... Pertama, beli casing cpu, beli harddisk,beli RAM, beli ini, beli itu.. pasang, pasang, baut, baut dan obeng-obeng. Semua serba beli.. Tak apa, walaupun di bidang ini aku sedikit salah prediksi, namun di mata pelajaran lain seperti matematika,b.inggris aku masih tertarik..
Waktu berlalu, selesailah masa SMA... Jelas saja, aku mengulangi kebodohan yang sama. Saat memutuskan untuk melanjutkan pendidikan aku malah memilih jurusan Sistem Informasi yang banyak awam sebut, jurusan komputer.. :D
Sebenarnya ada beberapa faktor yang membuat aku memilih kampus dan jurusan ini.
1. Aku sudah mencoba mendaftar ke perguruan tinggi Negri yang tanpa muluk-muluk dari kampus pertama sampai kampus ketiga aku meng-klik pendidikan bahasa inggris. Karena disitulah passion ku berada. Tapi di jalur pertama aku gagal. Kemudia aku mengambil jalur test, sama seperti sebelumnya, universitas 1-3 aku pilih bahasa inggris lagi. Saat tes tiba, betapa terkejutnya aku melihat soal yang WOW, mau kuliah bahasa inggris saja kenapa aku harus menjawab soal Matematika yang jawabannya entah didapat darimana, soal bahasa Indonesia yang pilihan jawabannya tak ada yang salah, jawab soal ips. Mengingat basic sekolah menengah kejuruan, aku tak bisa menyalahkan soal atau apapun. Apalagi bimbingan belajar juga tak pernah aku masuki sekalipun. Mulai dari sini, aku sudah meng-klaim bahwa bahasa inggris bukanlah jodohku.
2. Dikarenakan niat untuk kuliah dengan biaya sendiri aku memilih kampus yang biaya masuk awal ya sesuailah dengan gaji bulan itu. Dan ternyata kampus yang aku pijaki sekaranglah yang pas dengan kondisi kantong. Dan resiko beratnya adalah aku harus berhadapan dengan komputer lagi.

Waktu berlalu begitu cepat, saat semester pertama semua mata kuliah ku sapu bersih.. Tak ada  yang sulit aku kira. Dan mulailah aku semangat mungkin disinilah cintaku berlabuh. Ya hadiahnya adalah IP cum laude, 3,90 with 4,00 scale. Almost Perfect!!!
Tetapi di semester ini, semester 2 aku mulai merasakan tantangan gilanya. Karena banyak mata kuliah yang membahas pembuatan program dan aku harus berkutat dengan koding-koding yang terkadang aku harus mengutuki diriku sendiri setelah langkah yang di ambil semudah itu saat sang dosen menjelaskan.
Tapi, apakah ini salahku jika aku tak bisa nalar terhadap mata kuliah ini? Aku sudah memberi focus yang baik, perhatian yang baik. Tapi mengapa tak bisa ku tangkap?? Mulailah di semester ini aku sadar bahwa aku tak lebih dari seorang pecundang. Aku paling gengsi dengan istilah copy paste. Aku paling tak kenal kata menyerah. Tapi karena tuntutan nilai gono gini, aku mulai membohongi diriku. Aku malas buat tugas, aku lebih suka menjadi seorang tukang edit, ujian aku lebih banyak berpasrah. Seperti tadi, saat ujian desain web. Aku sudah berusaha, tetapi aku tetap tidak bisa. Ingin rasanya menumpahkan semua air mata yang tertahan. Sudah gagal, malah diberi tugas perbaikan pula. Yang lebih sulit pula. Oh, God.. yang mudah saja belum bisa, bagaimana yang sulit?

Seseorang menyarankan kepadaku untuk drop out dan mengambil jurusan bahasa inggris saja yang sesuai dengan passionku. Tapi seperti makan buah simalakama. Mengingat perjuangan menghabiskan seluruh gajiku selama setahun rasanya seperti anak pejabat saja, suka buang-buang uang. Dan, umur menuju 21 ini benar-benar menyiksaku, yang seharusnya aku sudah berada di semester 7.

Stuck..

Semoga diluar sana, tak adalagi korban salah pilih... Jangan pernah bohongi hatimu!!

Tuesday, August 11, 2015

Disaat cintaku mengalahkan logika part-3

Terus aku bales lagi pesan dari ucok isinya gini nih...
"Masih kenal aku gak?? Jangan keseringan begadang yah, gak bagus" and then pesan itu nyampe ke dia.
But, aku baca ulang. Loh?? Kok kesan nya isi pesan aku over perhatian gitu ya? tapi udah terlanjur terkirim, kalo mau ngebatalin aku harus datangin Bang Mark Zuckerberg dong ke Amerika Serikat supaya dia batalin inbox aku ke ucok. Hahaha.
Tapi jujur, di balik pesan singkat ku tadi terkandung ketulusan di dalamnya. Aku ngetik pesan itu pakai hati melalui jemari.. hehehe

Dan percakapan pun berlanjut, biasalah cowok.. Tak pernah lepas dari gombal. Ya, walaupun begitu aku tetap senang karena bisa nanya-nanya. Dia muncul dari planet mana, Hobinya apa, mantannya berapa, udah kelas berapa, perjaka atau giman, bla,bla, bla,bla and bla..

Lama kelamaan chattingan ama dia itu sudah menjadi rutinitas, tiap malam tanpa jeda. Pas.. pas banget dia ada disaat masa itu adalah masa tersulit di dalam hidupku. Dimana aku harus kehilangan sumber rupiah untuk hidup dan kuliah. Nyari sumber rupiah lain tak secepat membalikkan telapak tangan. Aku senang dia ada, aku bersyukur. Setidaknya menjelang tidur di malam hari aku merasa sedikit tenang, karena ada angin sejuk yang menenengkan hatiku.

Waktu berlalu begitu cepat, tibalah saat nya untuk kami bertemu di dunia yang sebenarnya. Aku berterimakasih kepada facebook karena ia membuka kesempatan kepadaku untuk bertemu dengan nya. Kami mengatur janji untuk bertemu di malam minggu, sedikit deg-degan tapi tak apalah bisa diatasi karna yang akan ku temui seorang ucok bukan seorang jokowi.

Bersambung..